Bahagia yang Tidak Terlihat Hebat, Tetapi Dikenal Allah

Bacaan Hari Minggu Biasa IV/A:

Zefanya2:3; 3:12-13; 1 Korintus 1:26-31; Matius 5:1-12a

Saudara-saudari terkasih, Selamat Hari Minggu untukmu semua

Kita hidup di dunia yang sangat bising dengan satu kata: berhasil.

Berhasil berarti kuat. Berhasil berarti terkenal. Berhasil berarti diakui, dipuji, dan ditakuti.

Tetapi hari ini, Yesus berdiri di hadapan kita dan berkata sesuatu yang sangat bertolak belakang: “Berbahagialah yang miskin di hadapan Allah…” “Berbahagialah yang lemah lembut…” “Berbahagialah yang berdukacita…”

Ini bukan bahasa motivasi dunia. Ini adalah bahasa Kerajaan Allah. Ada 4 hal utama yang perlu kita renungkan Bersama hari ini:

1. Allah Tidak Menyingkirkan yang Lemah, Ia Tinggal Bersama Mereka

Nabi Zefanya berkata: “Aku akan meninggalkan di tengah-tengahmu suatu umat yang rendah dan hina.” Perhatikan baik-baik: Allah tidak menghapus yang kecil,Allah tidak menunggu umat-Nya menjadi hebat baru dicintai.

Justru di tengah umat yang tersisa, miskin, tertindas, dan sering tak diperhitungkan, Allah memilih untuk tinggal.

Sering kali kita merasa tidak layak:karena ekonomi terbatas,karena gagal dalam keluarga,karena iman kita tidak sempurna,karena hidup tidak sesuai rencana. Sabda hari ini berkata dengan lembut tapi tegas:Justru di situ Allah sedang dekat.

2. Allah Tidak Memilih yang Sempurna, Tetapi yang Bersedia Rendah Hati

Rasul Paulus mengingatkan jemaat Korintus:”Tidak banyak orang bijak, tidak banyak orang terpandang yang dipanggil Allah.” Mengapa? Karena orang yang merasa sudah kuat sering tidak merasa butuh Allah. Kerajaan Allah dibangun bukan oleh mereka yang merasa paling benar, melainkan oleh mereka yang berkata dalam hati: “Tuhan, tanpa Engkau aku tidak sanggup.”

Kerendahan hati bukan kelemahan.Kerendahan hati adalah ruang kosong di dalam diri yang memberi tempat bagi Allah untuk bekerja.

3. Sabda Bahagia: Jalan Hidup, Bukan Hiasan Rohani

Yesus tidak sedang membacakan puisi indah di Bukit. Ia sedang menggambarkan wajah murid sejati. Bahagia bukan karena hidup tanpa luka, tetapi karena Tuhan hadir di tengah luka itu. Bahagia bukan karena tidak pernah menangis, tetapi karena air mata kita tidak jatuh sendirian. Bahagia bukan karena selalu menang, tetapi karena tetap setia dalam kebaikan meski sering kalah.

Inilah kebahagiaan yang tidak viral, yang tidak selalu dipuji, tetapi dikenal dan disimpan oleh Allah.

4. Sabda Ini Menegur Kita Semua

Sabda hari ini menegur kita dengan lembut: Apakah kita mengukur nilai orang dari kekuatan, jabatan, dan keberhasilannya? Apakah kita masih bisa bersyukur saat hidup terasa biasa dan tidak gemilang? Apakah Gereja sungguh menjadi rumah bagi yang kecil, lemah, dan tersingkir?

Yesus tidak memanggil kita menjadi hebat di mata dunia, tetapi setia di mata Allah.

Penutup

Saudara-saudari terkasih,

Jika hari ini kita merasa kecil, tidak cukup baik, atau sering gagal, jangan berkecil hati.

Hari ini Yesus berkata kepada kita: “Engkau tetap berbahagia di mata-Ku.”

Mari kita pulang dari perayaan Ekaristi ini bukan dengan rasa paling benar, tetapi dengan hati yang lebih lembut, lebih rendah hati, dan lebih percaya bahwa Allah bekerja justru lewat hidup kita yang sederhana. Amin. Doa dan Berkat Untukmu semua Sahabatku dari Sahabatmu Romo John Subani, Pr

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *