Iman yang Rendah Hati Menembus Batas

Ucapan Selamat Pagi

 SELAMAT PAGI Sahabat Sabda dan Pena yang terkasih dalam Kristus.

Semoga hari ini hati kita dibuka oleh rahmat Tuhan, dan iman kita dikuatkan oleh Sabda-Nya yang hidup.

Kutipan Sabda Hari Ini diambil dari Injil Markus 7:24–30:

“Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing.” Tetapi perempuan itu menjawab-Nya: “Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak.”

Maka kata Yesus kepadanya: “Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.”

Tema Refleksi Hari ini, Kamis 12 Februari 2026 adalah: Iman yang Rendah Hati Menembus Batas.

Sahabatku terkasih dalam Kristus,

Yesus memasuki wilayah Tirus dan Sidon, wilayah kafir, wilayah “di luar batas.” Seorang perempuan Siro-Fenesia datang memohon kesembuhan bagi anaknya. Ia bukan Yahudi. Ia bukan bagian dari “umat terpilih.” Secara sosial, religius, bahkan budaya, ia berada di luar lingkaran.

Jawaban Yesus pada awalnya terasa keras. Seakan-akan ada jarak. Seakan-akan ada batas. Tetapi di situlah iman perempuan ini bersinar. Ia tidak tersinggung. Ia tidak mundur. Ia tidak menyerah. Ia tidak membela diri. Ia justru merendahkan dirinya dan berkata dengan iman yang luar biasa: bahkan remah-remah kasih Tuhan cukup bagiku.Dan di situlah mukjizat terjadi.

Iman yang rendah hati membuka pintu rahmat. Kerendahan hati mengalahkan tembok perbedaan. Ketekunan menembus batas identitas.

Perempuan ini mengajarkan kepada kita bahwa iman sejati bukan hanya status keagamaan, bukan sekadar kedekatan struktural dengan Tuhan, melainkan sikap hati yang percaya tanpa syarat. Ia datang bukan dengan hak, melainkan dengan harap. Ia tidak menuntut, ia memohon.

Sering kali kita merasa Tuhan diam. Sering kita merasa doa kita seperti ditolak. Sering kita merasa tidak layak. Namun, kisah ini meneguhkan kita bahwaTuhan melihat hati yang tulus. Tuhan menguji untuk memurnikan, bukan untuk menolak. Dan ketika iman bertahan, rahmat tidak pernah tertahan. Yesus pada akhirnya tidak melihat label perempuan itu. Ia melihat imannya. Dan iman itulah yang menyelamatkan anaknya.

Sahabatku, mungkin hari ini kita merasa seperti perempuan itu: berada di pinggir, tidak diperhitungkan, merasa kecil. Jangan mundur. Tetap percaya. Kadang rahmat datang bukan setelah kemegahan doa, tetapi setelah kesederhanaan hati. Iman yang rendah hati selalu menemukan jalan menuju hati Tuhan.

 Tugas Perutusan Hari Ini:

Hari ini, bawalah kepada Tuhan satu pergumulan yang mungkin selama ini terasa belum dijawab. Datanglah dengan hati rendah dan penuh percaya. Jangan menyerah sebelum berkat turun.

Doa:

Tuhan Yesus,

ajarlah aku memiliki iman seperti perempuan Siro-Fenesia: iman yang tidak mudah tersinggung, iman yang tidak menyerah, iman yang percaya walau Engkau seakan diam. Berilah aku kerendahan hati untuk tetap berharap, dan keteguhan untuk menanti rahmat-Mu. Amin.

Berkat Perutusan:

Semoga Tuhan memberkati imanmu hari ini, menguatkan harapanmu, dan memenuhi hidupmu dengan remah-remah rahmat yang cukup untuk mengubah segala keadaan dalam Nama Bapak dan Putra dan Roh Kudus. Amin.

Doaku dan berkat untukmu semua Sahabatku, dari Sahabatmu Romo John Subani, Pr.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *