Ketika Kebenaran Tidak Diterima

  1. Ucapan Selamat Pagi dan Refleksi

Selamat pagi, para Sahabat Sabda dan Pena yang terkasih dalam Kristus. Semoga pagi ini hati kita dipenuhi damai dan terang Sabda Tuhan. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk mendengarkan Tuhan yang berbicara melalui Injil-Nya dan membiarkan Sabda itu membentuk hidup kita. Hari ini Gereja mengajak kita merenungkan Injil dari Lukas 4:24–30, sebuah kisah yang sangat kuat tentang bagaimana manusia sering menolak kebenaran ketika kebenaran itu menantang kenyamanan hidupnya.

2. Kutipan Sabda:

 Kutipan Sabda Hari Ini diambil dari  Lukas 4:24–30

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya. Tetapi Aku berkata kepadamu: pada zaman Elia banyak janda di Israel, namun Elia diutus bukan kepada mereka, melainkan kepada seorang janda di Sarfat di tanah Sidon. Dan pada zaman nabi Elisa banyak orang kusta di Israel, tetapi tidak seorang pun dari mereka yang ditahirkan selain Naaman, orang Siria. Mendengar itu, sangat marahlah semua orang di rumah ibadat itu. Mereka bangun, lalu menghalau Yesus keluar dari kota dan membawa Dia ke tepi tebing gunung tempat kota itu terletak untuk melemparkan Dia dari tebing itu. Tetapi Yesus berjalan lewat dari tengah-tengah mereka dan pergi.”

3. Tema Refleksi

 Tema Refleksi hari ini Senin 09 Maret 2026 adalah Ketika Kebenaran Tidak Diterima

4. Refleksi

Sahabatku terkasih dalam Kristus, Injil hari ini memperlihatkan sebuah kenyataan yang sering terjadi dalam hidup manusia: kebenaran tidak selalu disambut dengan sukacita. Yesus berbicara di kampung halaman-Nya sendiri, di Nazaret. Orang-orang mengenal Dia sejak kecil. Mereka tahu keluarga-Nya, latar belakang-Nya, bahkan mungkin pernah bermain bersama-Nya ketika masih anak-anak. Namun, justru karena merasa terlalu mengenal-Nya, mereka sulit menerima Dia sebagai utusan Allah.

Yesus menyampaikan kebenaran yang tidak nyaman bagi mereka: bahwa kasih Allah tidak terbatas hanya untuk satu kelompok atau satu bangsa. Ia mengingatkan kisah nabi Elia dan Elisa yang justru menolong orang asing, bukan orang Israel sendiri. Dengan kata lain, rahmat Allah melampaui batas-batas yang dibuat manusia.

Kata-kata itu menyinggung kebanggaan mereka. Alih-alih merenung, mereka justru marah. Bahkan mereka mencoba membunuh Yesus. Betapa ironisnya: orang yang membawa kabar keselamatan justru ditolak oleh orang-orang yang merasa paling dekat dengan-Nya. Kisah ini juga menjadi cermin bagi kita. Sering kali kita menginginkan Sabda Tuhan yang menenangkan, tetapi tidak selalu siap menerima Sabda yang menegur atau mengubah hidup kita. Ketika Injil menantang sikap egois, kesombongan, atau sikap tertutup kita, kita bisa saja bereaksi seperti orang Nazaret: menolak, membela diri, atau bahkan memusuhi kebenaran.

Namun, Yesus tidak berhenti karena penolakan itu. Ia berjalan melewati mereka dan melanjutkan misi-Nya. Ini menunjukkan bahwa rencana Allah tidak dapat dihentikan oleh penolakan manusia. Sabda Tuhan tetap berjalan, tetap bekerja, dan tetap mencari hati yang mau terbuka. Pagi ini kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri: apakah kita sungguh membuka hati pada Sabda Tuhan, ataukah kita hanya menerima Sabda yang sesuai dengan keinginan kita? Tuhan sering berbicara melalui orang-orang sederhana, melalui teguran kecil, melalui peristiwa sehari-hari. Jika hati kita memiliki kerendahan hati yang cukup di dalam diri, kita akan melihat bahwa Tuhan sedang membimbing hidup kita.

5. Tugas Perutusan Hari Ini

Hari ini cobalah melakukan satu hal sederhana: Terimalah kebenaran dengan hati terbuka, bahkan ketika kebenaran itu menantang kita untuk berubah. Mungkin melalui: nasihat orang lain,  koreksi kecil, atau Sabda Tuhan yang menyentuh hati. Biarkan Sabda itu membentuk hidup kita.

6. Doa

Tuhan Yesus,

Engkau datang membawa kebenaran dan keselamatan bagi semua orang. Namun, sering kali hati kami keras dan sulit menerima Sabda-Mu. Lunakkanlah hati kami, ya Tuhan, agar kami tidak menolak kebenaran hanya karena kebenaran itu menantang hidup kami. Berilah kami kerendahan hati untuk mendengarkan Sabda-Mu dan keberanian untuk menghidupinya setiap hari. Amin.

7. Berkat Perutusan

Semoga Tuhan memberkati langkah-langkah kita hari ini. Semoga Sabda-Nya menjadi terang yang menuntun hidup kita, menguatkan iman kita, dan menuntun kita menjadi saksi kasih-Nya.

Doaku dan berkat untukmu semua, Sahabatku, dari Sahabat Setiamu

Romo John Subani, Pr

3 komentar untuk “Ketika Kebenaran Tidak Diterima”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *