Luka yang Menyelamatkan

Selamat Hari Jumat Agung

“Luka yang Menyelamatkan”

(Yes 52:13–53:12; Ibr 4:14–16; 5:7–9; Yoh 18:1–19:42)

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, hari ini Gereja tidak merayakan Ekaristi. Hari ini Gereja diam… Hari ini Gereja berlutut di kaki salib. Karena hari ini kita tidak sekadar mengenang kematian Yesus, kita berdiri di hadapan misteri kasih yang paling dalam.

1. Dia yang Tidak Bersalah… Memikul Dosa Kita

Nabi Yesaya berkata: “Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, diremukkan oleh karena kejahatan kita.”

Saudara-saudari terkasih dalam  Kristus, Yesus tidak mati karena kesalahan-Nya. Ia mati karena dosa kita. Setiap kebohongan kita… setiap luka yang kita sebabkan… setiap saat kita menjauh dari Tuhan… semuanya dipikul-Nya di kayu salib. Dan yang paling menggetarkan: Ia tidak melawan. Ia tidak membalas. Ia memilih diam… karena Ia memilih mengasihi.

2. Salib Bukan Kekalahan… Tetapi Ketaatan

Surat kepada orang Ibrani mengatakan: “Sekalipun Ia adalah Anak, Ia belajar menjadi taat dari apa yang diderita-Nya.” Yesus tidak lari dari penderitaan. Ia tidak memilih jalan mudah. Ia memilih taat sampai akhir. Di taman Getsemani, Ia berkata: “Bukan kehendak-Ku, tetapi kehendak-Mu yang terjadi.” Saudara-saudari, inilah pelajaran terbesar dari salib: kasih sejati selalu taat, bahkan ketika harus menderita.

3. Dari Pengadilan ke Salib: Cermin Dunia dan Cermin Kita

Dalam Injil Yohanes, kita melihat: Yesus diadili… dihina… ditolak… disalibkan. Pilatus tahu Yesus tidak bersalah tetapi ia memilih aman daripada benar. Orang banyak memilih Barabas bukan karena benar, tetapi karena lebih mudah. Saudara-saudari, bukankah ini juga sering terjadi dalam hidup kita? Kita tahu yang benar… tetapi kita memilih yang nyaman. Kita tahu yang baik… tetapi kita memilih yang mudah. Dan tanpa sadar, kita pun ikut berseru: “Salibkan Dia!”

4. Salib: Puncak Kasih Allah

Namun, di tengah semua itu, Yesus berkata: “Sudah selesai.” Bukan tanda keputusasaan… tetapi tanda kemenangan. Karena di salib, dosa dikalahkan oleh kasih, kebencian dikalahkan oleh pengampunan, dan kematian dikalahkan oleh kehidupan. Salib adalah takhta kasih Allah.

5. Apa Artinya Bagi Kita Hari Ini?

Saudara-saudari terkasih, Jumat Agung bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dihidupi. Hari ini, Tuhan mengajak kita: Datang kepada-Nya tanpa takut, karena Ia memahami luka kita. Belajar taat, bahkan dalam kesulitan hidup. Mengampuni, sebagaimana Ia mengampuni kita. Memikul salib kita sendiri, bukan dengan keluhan, tetapi dengan iman. Karena salib bukan akhir hidup kita… salib adalah jalan menuju kebangkitan.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, jika hari ini kita berdiri di kaki salib, jangan hanya melihat penderitaan Yesus… tetapi dengarkan hati-Nya yang berkata: “Aku melakukan semua ini… untuk engkau.” Dan mungkin hari ini,

jawaban kita sederhana saja: Tuhan… aku kembali. Amin.

1 komentar untuk “Luka yang Menyelamatkan”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *