Satu Hati, Satu Cinta, Satu Keluarga Karena Ia Telah Bangkit
Kisah Para Rasul 10:34a.37-43; Kolose 3:1-4; Yohanes 20:1-9
Misa Paskah di Paroki Hati Yesus Yang Maha Kudus Noemuti
Minggu, 5 April 2026
Para Imam Tuhan, frater, suster, Bapak-Ibu-Saudara-Saudari dan anak-anak yang terkasih dalam Kristus Yang Bangkit Jaya. SELAMAT PESTA PASKAH untukmu semua. Hari ini bukan hanya hari raya umat beriman Kristiani. Hari ini adalah hari ketika cinta menang. Kita datang sebagai umat satu paroki, dengan moto yang indah dan dalam: Satu Hati… Satu Cinta… Satu Keluarga.
Tetapi pertanyaannya: dari mana persatuan itu lahir? Jawabannya ada di pagi Paskah ini. Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama pada hari raya Paskah tahun ini.
1. Kebangkitan Menghapus Batas-Kita Semua Satu
Saudara-saudari terkasih, dalam Kisah Para Rasul kita mendengar: “Allah tidak membedakan orang…” di hadapan Allah tidak ada lagi: kaya atau miskin, suku atau kelompok, yang dekat atau yang jauh. Semua dipersatukan dalam satu hal, yaitu Yesus yang bangkit. Tetapi mari kita jujur… masih ada di antara kita yang hidup berjauhan. Ada yang merasa: “Gereja bukan lagi tempat saya…” “Saya hanya datang saat Natal dan Paskah…” “Saya sudah terlalu jauh…”
Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus… Paskah hari ini adalah undangan untuk pulang. Gereja ini rumahmu. Tuhan ini Bapamu. Komunitas ini keluargamu. Jangan tinggal jauh… Pulanglah. Karena Paskah menghancurkan sekat. Paskah menyatukan hati.
2. Dari Kubur yang Kosong… Lahir Satu Hati
Dalam Injil Yohanes, Maria Magdalena datang ke kubur dengan hati yang hancur… dan air mata. Tetapi ia tidak menemukan kematian, ia menemukan kehidupan. Kubur itu kosong. Dan dari kubur yang kosong itu… lahirlah harapan baru.
Saudara-saudari terkasih, mungkin dalam keluarga kita ada “kubur”: kubur konflik, kubur kesalahpahaman, kubur luka lama, kubur kata-kata yang melukai. Bahkan mungkin ada yang mengalami: retaknya keluarga, perselingkuhan, perceraian, hubungan yang dingin dan jauh. Dan kita berpikir: “Sudah tidak bisa diperbaiki…”
Tetapi Paskah berkata: “Batu itu bisa digulingkan.” Hari ini Tuhan mengundang kita: mulai lagi, ampunilah lagi, dan cintailah lagi, supaya dari hati yang tertutup… lahir Satu Hati.
3. Kebangkitan Menyalakan Satu Cinta
Dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Kolose kita diingatkan: “Carilah perkara yang di atas…” Artinya: jangan lagi hidup dalam cara lama.
Saudara-saudari terkasih, sering kali kita melukai bukan dengan tangan… tetapi dengan kata-kata. Menceritakan keburukan orang lain, menyebarkan gosip dan menjatuhkan sesama. Padahal kita satu keluarga.
Hari ini Tuhan mengajak kita: berhenti melukai hati sesama, mulai menguatkan satu sama lain, gunakan kata-kata untuk membangun persaudaraan dan kekeluargaan. Karena Kristus sudah bangkit, maka cinta kita pun harus bangkit: dari cinta yang egois menjadi cinta yang memberi , dari cinta yang mudah marah menjadi cinta yang mengampuni, dari cinta yang terbatas menjadi cinta yang tanpa syarat. Inilah Satu Cinta.
4. Dari Kebangkitan… Lahir Satu Keluarga
Saudara-saudari terkasih, paroki ini bukan hanya tempat ibadah. Paroki ini adalah rumah. Dan kita semua adalah keluarga. Tetapi mari kita sadari… tidak semua merasa menjadi bagian dari keluarga ini. Ada yang tidak terlibat… ada yang acuh tak acuh… bahkan ada yang tidak mau ambil bagian dalam kehidupan bersama, termasuk dalam tradisi iman kita seperti Kure.
Saudara-saudari terkasih, iman tidak bisa hidup sendirian. Hari ini Tuhan memanggil kita: datang bukan hanya sebagai penonton, tetapi sebagai bagian dari keluarga: mari terlibat, mari hadir, mari berjalan bersama. Karena keluarga dibangun bukan dengan kata-kata, tetapi dengan keterlibatan dan kasih nyata.
5. Noemuti Dipanggil Menjadi Tanda Paskah
Saudara-saudari terkasih, umat Noemuti, hari ini Tuhan tidak hanya membangkitkan Yesus. Ia juga mengutus kita. Jadilah paroki yang sungguh satu hati. Jadilah paroki yang hidup dalam satu cinta. Jadilah paroki yang menjadi satu keluarga. Mulai dari hal sederhana: kembali setia pada Ekaristi, membangun keluarga dengan kasih, berhenti melukai sesama, berhenti mengkianati pasangan hidup, dan terlibat dalam kehidupan paroki. Supaya siapa pun yang datang ke Noemuti berkata: “Di sini… saya menemukan Tuhan.”
6. Penutup: Hari Ini adalah Hari Pulang
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita bersukacita dengan menari Bonet Sef’ma’u. Tetapi lebih dari itu, hari ini adalah hari pulang. Yang jauh dari Tuhan dan Gereja-Nya ….pulanglah. Buatlah niat untuk kembali ke rumah Tuhan, Ume Uis Neno. Yang terluka selama ini ….datanglah. Yang jatuh selama ini dalam dosa ….bangkitlah. Karena Kristus telah bangkit… dan Ia membuka jalan pulang bagi kita semua. Jangan biarkan Paskah berlalu begitu saja. Biarkan Paskah mengubah hidup kita. Maafkan, rangkul dan cintai. Dan hiduplah sungguh sebagai: Satu Hati… Satu Cinta… Satu Keluarga. Tes Kebangkitan : saya katakana Alleluya…..umat menjawab: Kristus bangkit- saya katakana: Kristus Bangkit… Umat katakana: Alleluya. Saya katakan: Kristus Bangkit Alleluya, umat katakan: Saya Bangkit juga. Amin

Terimakasih Rm.