Dari Adam Lama Menuju Adam Baru: Prapaskah sebagai Pemulihan Martabat Manusia

Dari Adam Lama Menuju Adam Baru: Prapaskah sebagai Pemulihan Martabat Manusia

Minggu I Masa Prapaskah – Tahun A

Kej 2:7–9; 3:1–7 | Rm 5:12–19 | Mat 4:1–11

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Selamat Hari Minggu untukmu semua.

Minggu Pertama Prapaskah selalu membawa kita kepada akar terdalam kehidupan manusia: siapa kita di hadapan Allah.Kitab Kejadian menggambarkan manusia sebagai makhluk yang dibentuk dari debu tanah dan dihidupkan oleh nafas Allah. Artinya, manusia adalah perpaduan antara kerapuhan dan kemuliaan. Kita rapuh karena berasal dari debu. Tetapi kita mulia karena membawa napas Ilahi.

Namun kejatuhan di taman Eden menunjukkan sebuah tragedi rohani: manusia meragukan kebaikan Allah. Godaan itu bukan sekadar soal buah terlarang, melainkan soal identitas. Ular berkata: “Kamu akan menjadi seperti Allah.” Padahal manusia sudah diciptakan menurut gambar Allah.

Di sinilah inti dosa: manusia ingin menentukan sendiri makna baik dan jahat tanpa bergantung pada Allah. Relasi berubah menjadi kecurigaan. Kepercayaan berubah menjadi ketakutan. Dan akibatnya nyata: keterasingan dari Allah, dari sesama, bahkan dari diri sendiri.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Roma memberi kita kunci teologis yang dalam. Ia berbicara tentang dua Adam. Adam pertama membawa dosa dan kematian. Adam kedua yaitu  Kristus  membawa pembenaran dan kehidupan.Yesus bukan hanya seorang guru moral yang memberi contoh. Ia adalah Adam Baru yang memulihkan martabat manusia yang rusak. Jika Adam jatuh karena ketidaktaatan, Kristus taat sepenuhnya kepada Bapa.

Injil hari ini memperlihatkan peristiwa simbolis dan mendalam: Yesus dicobai di padang gurun selama empat puluh hari. Empat puluh hari mengingatkan kita pada perjalanan Israel di padang gurun. Di sana Israel sering gagal percaya. Tetapi Yesus, Sang Israel sejati, tidak gagal.

Tiga pencobaan yang ditawarkan setan sesungguhnya menyentuh tiga dimensi keberadaan manusia: Pertama, dimensi biologis: “Jadikan batu ini roti.” Godaan untuk menjadikan kebutuhan material sebagai pusat hidup. Kedua, dimensi religius: “Jatuhkan diri-Mu, malaikat akan menatang Engkau.” Godaan untuk memanipulasi Allah demi pembuktian diri. Ketiga, dimensi politis: “Semua kerajaan dunia akan kuberikan.” Godaan untuk memperoleh kuasa tanpa jalan salib. Yesus menolak semuanya dengan satu sikap: ketaatan penuh kepada Sabda Allah.

Saudara-saudari umat Santo Yosef Pekerja Penfui yang terkasih, Prapaskah adalah perjalanan dari Adam lama dalam diri kita menuju Adam baru, yaitu Kristus. Adam lama dalam diri kita masih sering hidup: 1) ketika kita lebih memilih kenyamanan daripada kebenaran,2) ketika kita menjadikan pekerjaan atau uang sebagai pusat hidup, 3) ketika kita berdoa hanya untuk kepentingan diri, 4) ketika kita mengukur keberhasilan dari kuasa dan pengakuan.

Tetapi melalui baptisan, kita telah dipersatukan dengan Kristus. Artinya, dalam diri kita sudah ada benih Adam baru. Prapaskah adalah masa untuk membiarkan Adam baru itu bertumbuh.

Teologi Gereja mengajarkan bahwa rahmat tidak menghancurkan kodrat, tetapi menyembuhkannya dan mengangkatnya. Maka pertobatan bukanlah penolakan terhadap diri, melainkan pemurnian diri. Allah tidak membenci manusia. Allah menebus manusia. Maka padang gurun Prapaskah bukan tempat hukuman. Padang gurun adalah tempat pemurnian kasih.

Di bawah teladan Santo Yosef Pekerja, kita belajar bahwa ketaatan yang sunyi jauh lebih kuat daripada sensasi yang gemerlap. Yosef tidak mencari kuasa, tidak mencari pembuktian diri, tetapi ia hidup dalam kesetiaan sehari-hari. Itulah kemenangan sejati atas godaan.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, Pertanyaan mendalam bagi kita hari ini adalah: Dimensi mana dalam hidupku yang paling rapuh terhadap godaan? Apakah kebutuhan materi? Apakah harga diri dan pengakuan? Apakah ambisi dan kuasa? Prapaskah memberi kita tiga jalan klasik Gereja: doa, puasa, dan derma. Secara teologis, ketiganya menyentuh tiga relasi: Doa memulihkan relasi dengan Allah. Puasa memurnikan relasi dengan diri sendiri. Derma memperbaharui relasi dengan sesama. Ketika tiga relasi ini disembuhkan, martabat manusia dipulihkan.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Di akhir Injil dikatakan: setelah pencobaan itu, malaikat-malaikat datang melayani Yesus. Ini adalah tanda bahwa kesetiaan selalu berbuah penghiburan ilahi. Mungkin tidak langsung, mungkin tidak spektakuler, tetapi nyata.

Minggu Pertama Prapaskah ini mengingatkan kita bahwa kita tidak sendirian melawan godaan. Kristus telah lebih dahulu menang. Dan dalam Ekaristi, Ia membagikan kemenangan itu kepada kita. Semoga perjalanan Prapaskah ini menjadi perjalanan transformasi: dari manusia yang takut menjadi manusia yang percaya, dari Adam lama menuju Adam baru, dari dosa menuju rahmat. Amin.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *