Dari Takut Menjadi Saksi: Iman yang Hidup, Komunitas yang Menyala Imannya

 Homili: Hari Minggu Paskah II/A

Misa di Kapela Seminari Tinggi Santo Mikhael Penfui, 12 April 2026

Kisah Para Rasul 2:42-27; 1 Petrus 1:3-9; Yohanes 20: 19-31

“Dari Takut Menjadi Saksi: Iman yang Hidup, Komunitas yang Menyala Imannya”

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, para frater, mahasiswa-mahasiswi, dan orang tua yang dikasihi Tuhan, selamat Pesta Paskah. Ada satu kalimat sederhana tetapi sangat jujur dari Injil hari ini:“Pintu-pintu terkunci karena takut.” Itulah kondisi para murid setelah wafatnya Yesus. Mereka pernah berjalan bersama-Nya, belajar dari-Nya, bahkan menyaksikan mukjizat-Nya… Namun, ketika kenyataan menjadi gelap, mereka kembali menjadi manusia yang takut. Bukankah itu juga kisah kita? Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan Bersama hari ini:

 1. Takut Itu Nyata Tetapi Tuhan Lebih Nyata

Para frater mungkin takut akan masa depan panggilan: “Apakah saya sungguh setia sampai akhir?” Mahasiswa mungkin takut akan masa depan hidup: “Apakah saya akan berhasil? Apakah saya menemukan arah hidup?” Orang tua mungkin takut akan keluarga: “Bagaimana masa depan anak-anak saya? Apakah mereka tetap dalam iman?” Saudara-saudari, Injil tidak menyembunyikan ketakutan ini. Tetapi Injil juga memberi jawaban:  Yesus datang meski pintu terkunci. Ia tidak menunggu kita kuat. Ia tidak menunggu kita sempurna. Ia datang justru saat kita rapuh. Dan kata pertama-Nya bukan teguran…melainkan: “Damai sejahtera bagi kamu.”

 2. Dari Luka Menjadi Iman

Yesus tidak menyembunyikan luka-Nya. Ia menunjukkan tangan dan lambung-Nya. Mengapa? Karena iman Kristen bukan iman tanpa luka, tetapi iman yang menemukan Tuhan di dalam luka. Di sinilah kita bertemu dengan Tomas. Tomas tidak percaya begitu saja. Ia butuh menyentuh. Dan Yesus tidak menolaknya. Ia justru berkata: “Taruhlah jarimu di sini…”

Saudara-saudari, Yesus tidak alergi terhadap keraguan kita. Ia tidak menolak pertanyaan kita.

Ia masuk ke dalamnya. Dan dari mulut Tomas lahirlah pengakuan iman terbesar: “Ya Tuhanku dan Allahku!”

 3. Iman yang Hidup Melahirkan Komunitas yang Hidup

Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul memberi gambaran Gereja awal:  Mereka bertekun dalam pengajaran para rasul. Mereka hidup dalam persekutuan. Mereka memecahkan roti.  Mereka berdoa bersama. Dan hasilnya? “Semua orang disukai… dan jumlah mereka bertambah.” Ini luar biasa. Gereja tidak bertumbuh karena strategi… tetapi karena kesaksian hidup.

 4. Untuk Para Frater: Jadilah Imam yang Pernah Takut, tetapi Dikuatkan

Saudara-saudara frater terkasih, Panggilan imamat bukan panggilan orang sempurna. Ini panggilan orang yang pernah takut… tetapi memilih untuk percaya. Imam yang sejati bukan yang tanpa luka tetapi yang membiarkan luka itu disentuh oleh Kristus dan kemudian menjadi saluran rahmat bagi orang lain.

5. Untuk Mahasiswa: Jangan Takut Bermimpi dalam Terang Iman

Saudara-saudari mahasiswa, dunia ini penuh ketidakpastian. Tetapi iman memberi arah. Jangan hanya menjadi pintar… tetapi jadilah bermakna. Jangan hanya mengejar sukses… tetapi kejarlah kebenaran dan kasih. Karena dunia tidak hanya butuh orang cerdas tetapi orang yang hidupnya menjadi terang.

 6. Untuk Orangtua: Bangunlah Rumah Seperti Gereja Perdana

Para orang tua terkasih, rumah Anda adalah gereja kecil. Bangunlah keluarga yang berdoa bersama, saling berbagi, hidup dalam kasih, dan mengandalkan Tuhan, karena dari rumah seperti inilah lahir iman yang kuat.

 7. Berbahagialah yang Tidak Melihat, Namun Percaya

Yesus berkata: “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Itu adalah kita. Kita tidak melihat Yesus secara fisik… tetapi kita dipanggil untuk percaya, hidup, dan bersaksi.

 Penutup:

Saudara-saudari terkasih, hari ini Tuhan berkata kepada kita: Jangan tinggal dalam pintu yang terkunci.  Jangan biarkan ketakutan menguasai hidupmu.  Bukalah hatimu. Karena Tuhan yang bangkit berkata: “Damai bagimu… seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga Aku mengutus kamu.” Amin. Doa dan berkat dari Sahabat Setiamu, Romo John.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *