Ucapan Selamat Pagi dan Refleksi
Selamat pagi, para Sahabat Sabda dan Pena yang terkasih dalam Kristus. Kiranya rahmat Tuhan memenuhi hati kita sejak matahari terbit hari ini. Semoga setiap langkah kita menjadi langkah damai, dan setiap kata kita menjadi berkat.
Kutipan Sabda:
Kutipan Sabda Hari Ini diambil dari Matius 5:20–24
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum… Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat bahwa saudaramu mempunyai sesuatu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”
Tema Refleksi:
Tema Refleksi hari ini Jumat 27 Februari 2026 adalah “Kesucian Hati Lebih Dari Cuma Ketaatan Lahiriah”
Sahabatku terkasih dalam Kristus, Yesus hari ini mengguncang cara berpikir kita. Ia tidak berbicara tentang membunuh dalam arti fisik saja, tetapi tentang amarah, kebencian, dan luka hati. Ternyata, menurut Yesus, dosa tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi dari getaran kecil di dalam hati. Kata-kata kasar, prasangka, sakit hati yang disimpan diam-diam semua itu bisa menjadi benih perpecahan.
Yesus menuntut sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kepatuhan hukum. Ahli Taurat mungkin tidak membunuh, tetapi bisa saja menyimpan kebencian. Orang Farisi mungkin rajin beribadah, tetapi hatinya tidak berdamai.
Bagi Yesus, ibadah tanpa rekonsiliasi adalah ibadah yang belum selesai. Ia berani berkata: Sebelum engkau mempersembahkan kurban, berdamailah dahulu. Bayangkan betapa radikalnya ajaran ini. Tuhan lebih mendahulukan hati yang bersih daripada ritual yang sempurna. Lebih mendahulukan relasi yang dipulihkan daripada doa yang panjang.
Di dunia kita hari ini , di keluarga, di paroki, di kampus, di komunitas, betapa sering konflik kecil dibiarkan menjadi jurang. Kita bisa mengikuti misa, menerima komuni, melayani umat, tetapi masih menyimpan luka terhadap sesama. Sabda hari ini mengundang kita untuk masuk ke kedalaman: Apakah aku benar-benar sudah berdamai? Apakah ada seseorang yang masih kusimpan dalam daftar “tidak mau kuampuni”? Yesus tidak meminta kita menjadi sempurna secara hukum, tetapi menjadi murni secara kasih.
Tugas Perutusan Hari Ini:
Hari ini, ambillah satu langkah konkret: hubungi, sapa, atau doakan seseorang yang mungkin pernah melukai hati kita. Jika belum mampu berbicara, mulailah dengan doa pengampunan. Damai tidak jatuh dari langit, ia dibangun oleh hati yang rela merendah.
Doa:
Tuhan Yesus, Engkau melihat hatiku lebih dalam dari siapa pun. Ajarlah aku membersihkan batinku dari amarah dan kepahitan. Berilah aku keberanian untuk berdamai, kerendahan hati untuk mengampuni, dan ketulusan untuk mencintai tanpa syarat. Amin.
Berkat Perutusan:
Semoga Tuhan memberkati langkahmu hari ini. Semoga hati yang bersih menjadi persembahan terindah bagi-Nya. Semoga damai Kristus tinggal dalam keluargamu, dalam pelayananmu, dan dalam setiap relasi yang kaujalani, dalam nama Bapak dan Putera dan Roh Kudus, amin. Doaku dan berkat untukmu semua, Sahabatku, dari Sahabat Setiamu Romo John Subani, Pr.

Terima kasih Romo untuk renungan hari ini