Saudara-saudari terkasih dalam Kristus yang bangkit. Selamat Pesta Kebangkitan Tuhan. Malam ini… kita mulai dalam gelap. Tidak ada lampu. Tidak ada cahaya. Hanya satu api kecil… Dan dari api kecil itu, terang mulai menyebar. Seperti hidup kita. Kadang kita juga mulai dari gelap: gelap karena dosa… gelap karena luka… gelap karena kegagalan… Tetapi malam ini, Gereja tidak hanya menyalakan lilin, Gereja menyalakan harapan. Ada beberapa hal yang perlu kita renungkan bersama pada malam kebangkitan Tuhan.
1. Allah yang Tidak Pernah Menyerah pada Hidup Kita
Kitab Kejadian membuka semuanya dengan satu kalimat yang dahsyat: “Pada mulanya…” Artinya: segala sesuatu ada awalnya. Dan bahkan ketika hidup kita terasa hancur… Tuhan masih bisa memulai lagi. Dari kegelapan, Ia menciptakan terang. Dari kekacauan, Ia menciptakan keindahan. Dan dari hidup kita yang berantakan… Tuhan masih bisa menciptakan sesuatu yang indah. Jangan pernah berkata: “Hidup saya sudah selesai.”
Selama Tuhan ada, selalu ada “pada mulanya” yang baru.
2. Ketika Tuhan Meminta yang Paling Kita Cintai
Kisah Abraham bukan kisah mudah. Ia diminta menyerahkan Ishak—anak yang ia tunggu seumur hidup. Itu bukan sekadar ujian… itu luka. Saudara-saudariku terkasih dalam Kristus, hidup juga sering seperti itu: kita kehilangan orang yang kita cintai, kita melepaskan sesuatu yang kita perjuangkan, kita harus menerima kenyataan yang tidak kita inginkan. Dan kita bertanya: “Tuhan… mengapa?” Tetapi Abraham mengajarkan kita satu hal: percaya… bahkan ketika tidak mengerti. Dan pada akhirnya Allah menyediakan. Tuhan tidak pernah berniat untuk menghancurkan. Ia mengambil langkah untuk menyelamatkan.
3. Ketika Tidak Ada Jalan… Tuhan Membuka Jalan
Bangsa Israel berdiri di tepi laut. Di belakang: musuh. Di depan: laut. Tidak ada jalan. Mungkin itu juga hidup kita sekarang: masalah tidak selesai, doa terasa tidak dijawab, masa depan terasa buntu. Tetapi Tuhan berkata: “Majulah.” Dan laut pun terbelah. Saudara-saudari terkasih, Tuhan ahli membuat jalan di tempat yang tidak mungkin. Yang diminta dari kita hanya satu: Jangan berhenti berjalan.
4. Kasih yang Tidak Pernah Pergi
Melalui suara Kitab Yesaya, Tuhan berkata: “Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal.” Bukan kasih yang datang dan pergi. Bukan kasih yang berubah karena dosa kita. Tetapi kasih yang tetap tinggal… bahkan ketika kita menjauh. Seperti seorang ibu yang tetap mencintai anaknya— bahkan saat anak itu jatuh. Tuhan tidak pernah lelah mengasihi kita. Kitalah yang sering lelah kembali kepada-Nya.
5. Dan Akhirnya… Batu Itu Terguling
Semua kisah malam ini mengarah ke satu titik: kubur yang terbuka. Dalam Injil menurut Injil Matius kita mendengar: “Ia tidak ada di sini… Ia telah bangkit.” Saudara-saudariku ini bukan hanya kabar baik. Ini adalah kabar yang mengubah segalanya. Karena jika Kristus bangkit, maka: dosa tidak punya kata terakhir, penderitaan tidak punya kuasa terakhir, kematian bukan akhir cerita. Dan dalam Surat Paulus kepada Jemaat di Roma kita diingatkan: Kita tidak hanya melihat kebangkitan. Kita ikut ambil bagian di dalamnya.
6. Ini Bukan Hanya Cerita Yesus, Ini Cerita Kita
Saudara-saudari terkasih, Malam ini adalah cermin hidup kita: Kita pernah ada dalam kegelapan. Kita pernah diuji. Kita pernah terjebak. Kita pernah jatuh. Kita pernah “mati” dalam dosa. Tetapi…
Tuhan tidak pernah berhenti berjalan bersama kita. Dan malam ini Ia berkata: “Aku menciptakanmu…” “Aku menyertaimu…” “Aku menyelamatkanmu…” “Aku membangkitkanmu…”
7.Penutup: Jangan Pulang Sama
Saudara-saudari terkasih, jangan pulang dari malam ini dengan hati yang sama. Kalau tadi kita datang dengan gelap, pulanglah dengan terang. Kalau tadi kita datang dengan luka, pulanglah dengan harapan. Kalau tadi kita datang dengan dosa, pulanglah dengan hidup baru. Karena malam ini bukan sekadar perayaan, ini adalah kelahiran kembali. Tuhan yang bangkit, di tengah kegelapan hidup kami, nyalakanlah terang-Mu. Di tengah keraguan kami, teguhkanlah iman kami. Dan di tengah kematian hidup kami, bangkitkanlah kami menjadi manusia baru. Amin. Doa dan Berkat Untukmu Semua dari Sahabat Setiamu romo John.

A m i n. Terimakasih Rm atas renungannya.