Pilihlah Hidup: Berdamai Sebelum Terlambat

Pilihlah Hidup: Berdamai Sebelum Terlambat

Sirakh 15:15-20; 1 Korintus 2:6-10; Matius 5:17-37

Oleh: Romo John Subani,Pr

Saudara-saudari terkasih umat beriman yang dikasihi Tuhan. Selamat Pagi. Selamat Hari Minggu. Hari ini tiga bacaan berbicara sangat jelas dan sangat dekat dengan kehidupan kita. Sirakh berkata: “Jika engkau mau…” Tuhan menaruh hidup dan mati di depan kita. Pilihan ada di tangan kita.

Yesus dalam Injil berkata: jangan hanya berhenti pada aturan luar. Jangan hanya tidak membunuh. Periksa juga hatimu yang marah. Jangan hanya tidak berzinah. Periksa juga hatimu yang tidak murni. Jangan hanya tidak bersumpah palsu. Jadilah orang yang jujur dari dalam.

Dan Paulus dalam 2 Korintus memberi kita langkah berikutnya: setelah ada kesalahan, harus ada pengampunan. Setelah ada teguran, harus ada pemulihan.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus, saya ingin membagikan satu gambaran yang sangat sederhana dan mungkin sangat nyata.

Bayangkan ada satu keluarga. Suami pulang kerja dalam keadaan lelah. Istri juga lelah mengurus rumah dan anak. Terjadi salah paham kecil. Nada suara sedikit naik. Kata-kata sedikit tajam. Tidak ada yang mau mengalah. Malam itu mereka tidur tanpa saling menyapa.

Besoknya keadaan kembali normal di luar. Anak-anak ke sekolah. Suami bekerja. Istri mengurus rumah. Tidak ada yang ribut besar. Tetapi di dalam hati ada api kecil yang belum dipadamkan. Hari demi hari api kecil itu menjadi bara. Bara menjadi jarak. Jarak menjadi dingin. Dingin menjadi luka yang sulit disentuh lagi.

Tidak ada pembunuhan. Tidak ada perceraian. Tetapi kasih pelan-pelan mati.

Yesus hari ini berkata: siapa yang marah kepada saudaranya, sudah mulai membunuh di dalam hati. Inilah tajamnya Sabda Tuhan. Ia tidak menunggu kita jatuh dalam dosa besar. Ia ingin menyelamatkan kita dari dosa kecil yang terus dipelihara.

Sirakh berkata: Tuhan tidak pernah memerintahkan orang untuk berdosa. Ia memberi pilihan. Api dan air ada di depan kita. Dalam contoh keluarga tadi, api itu adalah gengsi. Air itu adalah kerendahan hati. Api itu adalah kalimat “Saya tidak salah.” Air itu adalah kalimat “Maaf.”

Kita sering menunggu orang lain mulai. Kita berkata, “Kalau dia minta maaf dulu, baru saya berubah.” Tetapi Sabda Tuhan hari ini bertanya: bukan soal dia, tetapi soal engkau. Jika engkau mau…

Dan Paulus berbicara sangat lembut tetapi sangat penting: jangan biarkan orang tenggelam dalam kesedihan. Teguhkan kembali kasihmu kepadanya. Artinya, setelah konflik, jangan hanya berhenti pada penyelesaian masalah. Teguhkan kembali kasih. Pulihkan pelukan. Kembalikan kehangatan.

Saudara-saudari umat beriman yang terkasih,

Mungkin di lingkungan ada dua keluarga yang sudah lama tidak saling sapa. Mungkin ada saudara kandung yang masih menyimpan sakit hati tentang warisan. Mungkin ada anak yang merasa tidak dimengerti oleh orang tua. Mungkin ada pasangan yang berbicara seperlunya saja, bukan lagi dengan cinta.

Hari ini Tuhan berkata: jangan tunggu sampai semuanya terlambat.

Yesus bahkan berkata: jika engkau hendak mempersembahkan persembahan dan teringat saudaramu mempunyai sesuatu terhadap engkau, tinggalkan dulu persembahan itu. Pergi berdamai dahulu. Bayangkan. Tuhan lebih menginginkan hati yang berdamai daripada upacara yang sempurna.

Kotbah hari ini mungkin terasa tajam. Tetapi ketajaman itu bukan untuk melukai, melainkan untuk menyembuhkan sebelum terlambat. Karena sesungguhnya memilih mengampuni itu bukan hanya menyelamatkan orang lain. Itu menyelamatkan diri kita sendiri. Orang yang menyimpan dendam sebenarnya meminum racun dan berharap orang lain mati.

Sirakh berkata: hidup dan mati ada di depanmu. Yesus berkata: Periksalah hatimu. Paulus berkata: ampunilah dan teguhkan kembali kasih. Itulah hikmat bagi kemuliaan kita

Maka hari ini judul kotbah yang disarikan dari Sabda Tuhan bagi kita jelas: Pilihlah Hidup: Berdamai Sebelum Terlambat.

Sebelum kita menerima Tubuh Kristus, marilah kita bertanya dalam hati: apakah ada satu langkah kecil yang bisa saya ambil minggu ini? Satu telepon? Satu pesan? Satu permintaan maaf? Satu pengampunan? Jangan pulang dari misa ini hanya dengan rasa lega karena sudah hadir. Pulanglah dengan keputusan. Keputusan untuk memadamkan api dengan air. Keputusan untuk memperbaiki relasi. Keputusan untuk memilih hidup. Karena keluarga yang dipulihkan adalah Gereja yang hidup. Lingkungan yang berdamai adalah paroki yang bersinar. Dan Tuhan hari ini tidak memaksa. Ia hanya berkata: Jika engkau mau…Amin.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *