Hati yang Berkobar di Jalan Emaus
Homili Misa Bersama Umat Stasi Santo Marukus Kaniti, 19 April 2026
Bacaan: Kisah Para Rasul 2:14.22–33; 1 Petrus 1:17–21; Lukas 24:13–35
Sahabat Sabda dan Pena terkasih dalam Kristus, umat Stasi Santo Markus Kaniti, Penfui Kupang yang terkasih dalam Kristus. Selamat pagi, selamat hari Minggu dan salam sukacita Kebangkitan Yesus.
Ada satu pengalaman yang sangat manusiawi dalam Injil hari ini: berjalan sambil kecewa. Dua murid berjalan ke Emaus. Mereka tidak lagi berjalan dengan harapan, tetapi dengan luka. Mereka tidak lagi berbicara tentang masa depan, tetapi tentang kegagalan. Mereka berkata: “Padahal kami dahulu mengharapkan…”
Kalimat itu sangat menyentuh.Karena itu juga kalimat kita: “Kami dulu berharap keluarga kami bahagia…” “Kami dulu berharap hidup kami berubah…” “Kami dulu berharap Tuhan menolong kami…” Tetapi kenyataan tidak seperti yang kita harapkan. “ Saya dulu berharap suami saya berhenti minum mabuk, saya dulu berharap isteri saya berhenti cerewet” tetapi kini sangat parah, tiada hari tanpa minum mabuk dan cerewet. Ada 4 hal yang perlu kita refleksikan bersama pada hari ketiga masa Paskah.
1. Tuhan Datang Justru Saat Kita Kecewa
Yang luar biasa adalah: Yesus datang bukan ketika mereka kuat, tetapi ketika mereka hancur. Ia berjalan bersama mereka. Ia tidak langsung mengubah keadaan. Ia tidak langsung membuat mukjizat. Ia mendengarkan.
Sahabatku, ini penting: Tuhan kita bukan Tuhan yang jauh. Dia adalah Tuhan yang berjalan bersama kita di jalan hidup yang paling gelap sekalipun. Mungkin hari ini ada di antara kita yang: lelah dengan hidup, kecewa dalam keluarga, merasa doa tidak dijawab. Ingatlah: Yesus sedang berjalan bersamamu… meskipun engkau belum menyadarinya.
2. Sabda Membuka Mata, Bukan Hanya Memberi Jawaban
Yesus tidak langsung berkata: “Aku ini Yesus.” Tidak. Ia membuka Kitab Suci. Ia menjelaskan bahwa penderitaan adalah bagian dari rencana keselamatan. Mengapa? Karena iman tidak dibangun dari sensasi, tetapi dari pengertian dan kepercayaan. Hari ini kita sering ingin: tanda, mukjizat, jawaban instan. Tetapi Tuhan berkata:“Dengarkan Sabda-Ku.” Karena Sabda itulah yang perlahan: menyembuhkan hati, menyalakan iman, mengubah cara kita melihat hidup.
3. Mereka Mengenal Yesus dalam Pemecahan Roti
Puncaknya terjadi saat Yesus: mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya, dan memberikannya. Saat itulah mata mereka terbuka. Sahabatku terkasih, ini bukan kebetulan. Ini adalah tanda Ekaristi. Artinya jelas: Kita tidak akan mengenal Yesus sepenuhnya tanpa Ekaristi. Kita tidak akan kuat tanpa perjumpaan dengan-Nya dalam roti kehidupan. Mungkin kita sering: datang ke Gereja untuk misa, tetapi tidak sungguh hadir, menerima komuni, tetapi hati tidak terbuka. Hari ini Yesus mengundang kita: “Kenalilah Aku dalam Ekaristi, bukan hanya dengan mata, tetapi dengan hati.”
4. Hati yang Berkobar: Tanda Iman yang Hidup
Setelah itu mereka berkata: “Bukankah hati kita berkobar-kobar ketika Ia berbicara kepada kita?” Ini tanda orang yang bertemu Tuhan: bukan sekadar tahu, tetapi terbakar oleh kasih. Pertanyaannya untuk kita: Apakah hati kita masih berkobar? Atau iman kita sudah dingin? Atau kita hanya menjalankan kebiasaan? Sahabatku, iman bukan rutinitas. Iman adalah api. Dan api itu dinyalakan oleh: Sabda Tuhan, Ekaristi, Perjumpaan pribadi dengan Yesus.
5. Dari Orang Kecewa Menjadi Pewarta
Yang paling indah: mereka langsung kembali ke Yerusalem. Padahal sebelumnya: mereka lelah, mereka putus asa, mereka ingin menjauh. Tetapi setelah bertemu Yesus: mereka menjadi saksi. Inilah pesan untuk kita di Stasi Santo Markus Kaniti: dari keluarga yang lelah menjadi keluarga yang bersaksi, dari umat yang biasa menjadi umat yang menyala, dari orang yang kecewa → menjadi pewarta harapan.
Penutup: Tuhan Masih Berjalan Bersama Kita
Sahabatku yang terkasih, Hari ini Yesus berkata kepada kita: “Aku tidak pernah meninggalkanmu. Aku berjalan bersamamu. Aku berbicara kepadamu. Aku hadir dalam Ekaristi. Bukalah hatimu… maka engkau akan mengenal Aku.”
Doa
Tuhan Yesus, sering kali kami berjalan dalam kekecewaan, sering kali kami tidak mengenali kehadiran-Mu. Bukalah hati kami, nyalakan kembali iman kami, dan buatlah hati kami berkobar oleh kasih-Mu. Tinggallah bersama kami, Tuhan, sebab hari telah menjelang malam. Amin.
Berkat
Semoga Tuhan yang bangkit menyalakan hati kita, menguatkan langkah kita, dan menjadikan kita saksi-Nya di tengah keluarga dan masyarakat. Dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus. Amin. Doa dan berkatku untukmu semua. Romo John Subani, Pr

Terima kasih Romo untuk renungan dan refleksi yg indah 🌺 ini🙏🙏😇