Tuhan Tidak Pernah Menutup Pintu Harapan

Homili  Minggu  Paskah VII

Misa di Lapas Pria Kupang 17 Mei 2026

Kisah Para Rasul 1:12-14; 1 Petrus 4:13-16; Yohanes 17:1-11a

Tuhan Tidak Pernah Menutup Pintu Harapan

Saudara-saudaraku terkasih dalam Kristus, selamat Hari Minggu.

Hari ini saya  datang membawa satu kabar yang mungkin sudah lama ingin didengar oleh hati kita: Tuhan belum selesai dengan hidupmu. Mungkin dunia sudah memberi cap tertentu kepada kita. Mungkin ada orang yang berkata: “Dia sudah gagal… Dia sudah jatuh… Dia sudah menghancurkan hidupnya…” Tetapi Injil hari ini memperlihatkan sesuatu yang sangat indah: Yesus justru berdoa untuk orang-orang yang lemah, takut, dan terluka. Dalam Injil Yohanes hari ini, Yesus berkata kepada Bapa:“Aku tidak meminta supaya Engkau mengambil mereka dari dunia, tetapi supaya Engkau melindungi mereka.”

Saudara-saudariku… Yesus tidak berkata: “Buang mereka.” “Lupakan mereka.” “Hukum mereka selamanya.” Tidak. Ia berkata: “Lindungilah mereka.” Betapa indahnya hati Tuhan. Kadang manusia hanya melihat masa lalu kita. Tetapi Tuhan melihat kemungkinan masa depan kita. Kadang manusia hanya melihat kesalahan kita. Tetapi Tuhan masih melihat air mata pertobatan kita. Kadang manusia melihat status “narapidana.” Tetapi Tuhan tetap melihat: anak-anak-Nya yang masih bisa bangkit.

Saudara-saudariku terkasih…

Dalam bacaan pertama, Kisah Para Rasul, para murid berkumpul dalam ketakutan setelah Yesus naik ke surga. Mereka bingung. Mereka merasa tidak aman. Masa depan terasa gelap. Bukankah kadang kita juga seperti itu? Ada orang di sini yang malam-malam sulit tidur karena memikirkan keluarga. Ada yang menangis diam-diam karena merasa mengecewakan orangtua. Ada yang takut anak-anaknya melupakan dirinya. Ada yang bertanya dalam hati: Apakah hidup saya masih punya arti? Hari ini Tuhan menjawab: Ya. Hidupmu masih berarti. Selama manusia masih bernapas, selama hati masih bisa menyesal, selama air mata masih bisa jatuh saat berdoa, rahmat Tuhan masih bekerja.

Saudara-saudariku…

Dalam surat pertama Rasul Petrus  tadi kita mendengar: “Berbahagialah kamu, jika kamu menderita karena Kristus.” Penderitaan memang tidak enak. Penjara bukan tempat yang mudah. Ada rasa malu. Ada kehilangan kebebasan. Ada kesepian. Ada penyesalan.

Tetapi dengarkan baik-baik ini: Kadang Tuhan memakai tempat paling gelap untuk menyalakan terang pertobatan. Ada orang yang baru sungguh berdoa ketika berada di titik terendah hidupnya. Ada orang yang baru menghargai keluarga setelah kehilangan kebebasan. Ada orang yang baru menemukan Tuhan setelah hidupnya hancur. Dan mungkin… di tempat inilah Tuhan sedang membentuk hati yang baru.

Saudara-saudariku…

Penjara boleh membatasi tubuh, tetapi jangan biarkan dosa memenjarakan jiwa selamanya. Tembok boleh tinggi. Pintu boleh terkunci. Tetapi kasih Tuhan tetap bisa masuk. Rahmat Tuhan bisa menembus jeruji besi. Doa bisa melewati semua tembok. Pengampunan Tuhan lebih besar daripada masa lalu kita. Hari ini Tuhan tidak bertanya: Seberapa buruk masa lalumu? Tetapi Tuhan bertanya: Maukah engkau bangkit bersama-Ku?

Saudara-saudariku terkasih…

Mungkin ada yang merasa dirinya sudah terlalu kotor untuk dicintai Tuhan. Tetapi lihatlah salib Kristus. Yesus wafat bukan untuk orang sempurna. Ia wafat untuk orang berdosa. Untuk orang yang jatuh. Untuk orang yang terluka. Untuk kita semua. Dan Paskah berarti: Tidak ada kubur yang terlalu tertutup bagi Tuhan untuk membangkitkan harapan. Maka mulai hari ini jangan berkata: Hidup saya sudah selesai. Katakanlah: Saya masih punya Tuhan. Saya masih bisa bertobat. Saya masih bisa berubah. Saya masih bisa menjadi manusia baru.

Kalau hari ini engkau menangis saat berdoa, jangan malu. Mungkin itu tanda bahwa hati yang keras mulai disentuh Tuhan. Kalau hari ini engkau rindu memulai hidup baru, jangan takut. Karena orang kudus bukanlah orang yang tidak pernah jatuh. Orang kudus adalah orang yang selalu mau bangkit bersama Tuhan.

Saudara-saudariku…

Suatu hari nanti, ketika kalian keluar dari tempat ini, dunia mungkin masih mengingat masa lalu kalian. Tetapi saya berharap satu hal: jangan kembali sebagai orang yang sama. Kembalilah sebagai manusia yang sudah disentuh Tuhan. Sebagai ayah yang lebih mengasihi keluarga. Sebagai anak yang lebih menghormati orang tua. Sebagai manusia yang tahu arti kasih, pengampunan, dan hidup baru. Dan ingatlah selalu: Tuhan mungkin mengizinkan kita jatuh… tetapi Tuhan tidak pernah senang melihat kita tinggal dalam kejatuhan. Ia selalu membuka jalan pulang. Amin.

Doaku dan berkat untukmu semua, Sahabatku, dari Sahabat Setiamu,Romo John Subani, Pr.

#SabdaHariIni

#InjilHariIni

#RenunganPagiKatolik

#SelamatPagiDalamTuhan

#HidupDalamSabda

#EvangelisasiDigital

#KatolikIndonesia

#PencerahanDariTimor

#SabdaUntukDunia

#ImanYangHidup

1 komentar untuk “Tuhan Tidak Pernah Menutup Pintu Harapan”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *