Mendengar Suara Gembala di Tengah Dunia yang Bising

Homili Minggu Gembala Baik

Misa di Stasi Santo Kristoforus Matani 26 April 2026

Kis. 2:14a.36–41; 1Ptr. 2:20b–25; Yoh. 10:1–10

Mendengar Suara Gembala di Tengah Dunia yang Bising

Saudara-saudari terkasih, umat Stasi Santo Kristoforus Matani yang dikasihi Tuhan, Selamat Pagi. Selamat Hari Minggu. Hari ini Sabda Tuhan menghadirkan satu gambaran yang sangat indah dan dekat dengan hidup kita: Yesus adalah Gembala yang baik, dan kita adalah domba-domba-Nya.

Dalam Injil, Yesus berkata:  “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Kalimat ini sangat menghibur. Tuhan datang bukan untuk merampas hidup kita. Tuhan datang bukan untuk menakut-nakuti kita. Tuhan datang bukan untuk membuat kita semakin berat memikul beban. Tuhan datang supaya kita hidup, supaya hidup kita tidak kosong, supaya hati kita tidak mati, supaya keluarga kita tidak kehilangan arah, supaya iman kita tidak padam.

Tetapi Yesus juga mengatakan bahwa ada pencuri yang datang hanya untuk mencuri, membunuh, dan membinasakan. Artinya, dalam hidup ini selalu ada suara-suara yang tidak membawa kita kepada keselamatan. Ada suara kemarahan, dendam, iri hati, mabuk, judi, perselisihan keluarga, ketidaksetiaan, kemalasan berdoa, dan sikap menjauh dari Gereja. Semua itu pelan-pelan mencuri damai dari hati kita.

Yesus, Gembala yang baik, tidak berteriak memaksa. Ia memanggil dengan suara kasih. Domba yang mengenal suara gembalanya akan mengikuti dia. Maka pertanyaan untuk kita hari ini ialah: suara siapa yang paling sering kita dengar? Suara Tuhan, atau suara dunia yang membuat hati kita jauh dari Tuhan?

Dalam bacaan pertama, Petrus berkhotbah dengan penuh keberanian. Orang banyak yang mendengar khotbah itu tersentuh hatinya lalu bertanya: “Apakah yang harus kami perbuat?” Pertanyaan ini sangat penting. Orang yang sungguh mendengar Sabda Tuhan tidak hanya berkata, “Homilinya bagus.” Orang yang sungguh mendengar Sabda Tuhan akan bertanya dalam hati: apa yang harus saya ubah dalam hidup saya?

Mungkin hari ini Tuhan berkata kepada seorang suami: Pulanglah menjadi kepala keluarga yang lebih sabar. Mungkin Tuhan berkata kepada seorang istri: jangan lelah menjaga kasih dalam rumah.

Mungkin Tuhan berkata kepada orang muda: jangan buang masa mudamu dalam hal yang merusak masa depan. Mungkin Tuhan berkata kepada orang tua: ajar anak-anak mengenal suara Tuhan sejak kecil. Mungkin Tuhan berkata kepada seluruh umat Stasi Matani: jagalah persaudaraan, jangan biarkan iri hati dan perpecahan merusak persekutuan.

Saudara-saudari terkasih dalam Krristus,

Dalam bacaan kedua, Santo Petrus berkata bahwa dahulu kita seperti domba yang sesat, tetapi sekarang kita telah kembali kepada Gembala dan Pemelihara jiwa kita. Ini sangat indah. Tuhan tidak menghina kita karena pernah tersesat. Tuhan tidak menolak kita karena pernah jatuh. Tuhan tidak menutup pintu karena kita pernah berdosa. Ia tetap mencari, memanggil, dan membawa kita pulang.

Itulah hati Yesus. Ia bukan Gembala yang hanya mencintai domba yang sehat dan kuat. Ia juga mencari domba yang terluka, lelah, berdosa, kecewa, dan hampir menyerah. Maka jangan pernah berkata, “Saya terlalu jauh dari Tuhan.” Selama kita masih mau kembali, pintu kandang Tuhan tetap terbuka.

Hari ini, untuk umat Stasi Santo Kristoforus Matani, Sabda Tuhan menjadi panggilan yang sangat konkret: jadilah komunitas yang mengenal suara Yesus. Suara Yesus adalah suara kasih, pengampunan, kejujuran, persatuan, dan pelayanan. Kalau dalam keluarga ada luka, mari mulai menyembuhkannya. Kalau dalam lingkungan ada salah paham, mari mulai berdamai. Kalau dalam hati ada dosa, mari datang kembali kepada Tuhan.

Santo Kristoforus dikenal sebagai pribadi yang membawa Kristus. Maka umat Stasi Santo Kristoforus Matani juga dipanggil menjadi umat yang membawa Kristus: membawa Kristus ke rumah, ke kebun, ke tempat kerja, ke sekolah, ke jalan-jalan hidup sehari-hari. Jangan hanya membawa nama Katolik, tetapi bawalah hati Kristus: hati yang mengampuni, melayani, dan menjaga sesama.

Saudara-saudari terkasih dalam Kristus,

Yesus hari ini berkata: “Akulah pintu.” Barangsiapa masuk melalui Dia, ia akan selamat. Maka jangan cari keselamatan di luar Kristus. Jangan cari damai dalam dosa. Jangan cari kekuatan dalam hal-hal yang merusak jiwa. Datanglah kepada Yesus. Masuklah melalui pintu-Nya. Di dalam Dia, hidup kita dijaga.

Semoga Misa Kudus ini membuat kita semakin mengenal suara Gembala Baik. Semoga keluarga-keluarga di Stasi Matani menjadi kandang kasih, tempat anak-anak merasa aman, orang tua saling menghormati, dan semua orang belajar hidup dalam terang Tuhan.

Dan semoga kita semua, setelah mendengar Sabda hari ini, berani bertanya seperti orang banyak kepada Petrus:”Tuhan, apa yang harus kami perbuat?” Jawabannya sederhana: Bertobatlah, dengarkan suara Kristus, dan hiduplah sebagai domba-domba yang setia kepada Gembala Baik. Amin. Doa dan berkat dari Sahabat Setiamu, Romo John Subani, Pr

1 komentar untuk “Mendengar Suara Gembala di Tengah Dunia yang Bising”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *